Sekilas Tentang Dunia Kesufian

Sekilas Tentang Dunia Kesufian

Sekilas Tentang Dunia Kesufian


Jika kita mengakaji ilmu Tasawuf, atau minimal membaca kitab bertema suluk, kita akan berjumpa dengan kata Al-Ghaibah. Istilah sufisme ini identik dengan ekstase dalam ilmu kebathinan. Para Sufi mengartikannya sebagai kondisi di luar kendali, akibat adanya hubungan transendental antara makhluk dengan Sang Pencipta.

Komunikasi tingkat tinggi itu, membuat manusia, saat dihadapkan pada keagungan Dzat Tuhan, lupa diri, lupa sekitar, melebur seolah hilang kesadaran, dan akhirnya pada titik tertentu melumpuhkan indra tubuhnya secara total.

Imam ibn Ishaq meriwayatkan pada suatu hari, menjelang perang Datz al-Riqo', sahabat Abbad bin Bisyr ditugaskan Rasul untuk jaga malam. Rasulullah berserta para sahabatNya beristirahat di sebuah lereng gunung. Abbad bin Bisyr tidak sendiri. Ia ditemani Ammar bin Yasir. Kedua sahabat nabi itu sepakat untuk bergatian. Pada paruh malam pertama Abbad lah yang ronda. Kemudian, untuk paruh kedua, ia akan diganti oleh Ammar.

Abbad berjaga di lorong gunung sembari melaksanakan salat malam. Tiba-tiba ketika salat, ia diserang seorang laki-laki dari kaum musyrik dengan panah. Abbad tidak bergeming meski anak panah itu menancap di tubuhnya. Seakan tidak terjadi apa-apa, ia khusuk. Dipanah lagi. Beliau tetap diam. Sampai serangan ketiga, Abbad baru tergesa-gesa menyelesaikan salatnya. Ia membangunkan Ammar. Melihat cucuran darah Ammar bangkit memburu laki-laki musyrik itu. Namun ia kabur dan tak terkejar.

"Mengapa kau tidak membangunkanku sejak awal?" Ammar menghardik teman anshornya itu. Abbad menimpali.

"Waktu serangan pertama aku sedang berada di tengah-tengah surat Al-Qur'an. Aku tak ingin memotongnya. Kalau tidak ingat akan keselamatan orang islam, sungguh, apapun yang terjadi, aku tidak akan mengakhiri salatku sampai bacaan surat itu selesai!"

Hadits ini menggambarkan betapa tinggi iman Abbad bin Biysr. Aku takjub. Saat ia berada pada puncak kenikmatan bermunajat kepada Tuhan, bersenyawa dengan firman-Nya, ia larut. Seolah ia memasuki alam lain. Sampai-sampai ia sama sekali tak merasakan sakit dari luka panah itu.
Inilah yang dinamakan pakar Tasawuf dengan al-Ghaibah. Aku terkejut menyadari ternyata Abbad bin Bisyr seorang sufi.

Fenomena macam ini tidak hanya terjadi pada zaman Nabi. Pada kurun selanjutnya banyak orang sholeh yang mengalami kondisi serupa. Dalam kitab Risalah Qusyairiyah disebutkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin, cucu sayyidina Ali bin Abi Tholib, pernah ketika sujud rumahnya kebakaran. Sampai api berhasil dipadamkan ia tidak bergeser dari tempat sujudnya barang satu senti pun. Orang-orang heran. Ia ditanya bagaimana itu bisa terjadi? Sungguh dahsyat jawaban beliau.

"Kobaran api neraka di akherat membuatku lupa pada panasnya api dunia!"

Seseorang yang mengalami fenomena ghaibah, pada tingakat tertentu, tidak dikenai hukum taklifi. Sebab ulama fikih sepakat bahwa poros taklif -selain bulugh- adalah akal, dan orang pada kondisi ini tak lagi sadar. Ia seperti orang mabuk, akalnya sudah tertutup.

Lantaran itu syekh al-Juneid mencegah istrinya masuk kamar, saat Abu Bakar Al-Syibli tersedu-sedu, datang berkunjung ke rumahnya. Syekh itu tahu bahwa Al-Syibli sedang tenggelam dalam kesedihan, sehingga ia tak kan sadar duduk bersama siapa. Yang ia ingat hanya dosa-dosanya. Setelah syekh menenangkan Al-Syibli, dan sebelum kesadarannya kembali, syekh itu baru menyuruh istrinya masuk ke dalam.

Kondisi di luar kontrol seperti ini tidak hanya menimpa seseorang saat menghadap Penciptanya. Ada banyak hal lain yang bisa membuat manusia terlena, fana dan hilang akal. Al-Qur'an merekam salah satu fragmen itu dalam surah Yusuf, ayat 31.

Dimana para tamu wanita, waktu melihat Yusuf, serta merta mengiris-ngiris jari mereka dengan pisau. Mereka tercengang. Wajah rupawan Nabi Yusuf memusnahkan kesadaran mereka. Rasa sakit jari jemari yang terkoyak itu nisbi kala dihadapkan pada ketampanan mahatinggi putra Nabi Ya'kub itu. Wanita-wanita itu pun bergumam,

"Ini bukan manusia. Sungguh ia tak lain hanyalah malaikat!" Kaum perempuan itu baru siuman dan mengerang kesakitan setelah Nabi Yusuf lenyap dari pandangan mereka.

Saat kuliah dulu aku pernah terheran-heran, mana mungkin ada mahasiswa, dalam waktu singkat, tanpa napas, hampir tiap malam, mampu menghabiskan 10 porsi Indomie sekaligus? Maka setelah memahami konsep al-Ghaibah kutemukan jawabannya. Temanku itu adalah seorang sufi. Ini sebuah karamah. Kala menyantap mie instan laksana orang kesurupan itu pastilah ia berada di dunia lain. Aku makin kagum saja padanya.

Dan ternyata benih-benih sufi juga tertanam dalam diriku. Gejalanya, saat aku berkenalan dengan perempuat cantik, tanpa terasa, kepalaku didesaki oleh kata-kata mesra. Tanganku tak bisa kukendalikan, ia dengan sendirinya menkonversi kata-kata itu menjadi puisi, catatan, status dll. Biasanya setelah dua-tiga hari aku baru sadar, bertanya-tanya, akukah yang menulis ini? Kalau kawan tidak percaya bacalah pesanku di bawah.

"Seseorang mengirim pesan, bertanya siapa putri itu? Saya membalas. Jika yang Maha Agung pernah mengutus bidadari ke bumi maka putri itu adalah ratunya. Ia bidadari segala bidadari: Cantik tiada tara, lembut tak berbanding dan anggun tiada duanya.

Putri itu adalah Aphrodite, sang dewi cinta dan kecantikan dalam metologi Yunani. Ia turun setiap pagi, bersama fajar, di puncak gunung Roraima yang melayang-layang di Venezuela. Matanya sebening danau Moraine. Dan tatapannya yang magis mampu menenangkan ombak, melumpuhkan angin dan mendinginkan lahar gunung merapi.

Di dunia ini, putri itu adalah majikan dari Laila, Hera, Zinxiang, Juliet, Balqis, Cleopatra dan lady Diana. Pesonanya setingkat dengan kecantikan wanita separuh jagat raya. Wanita dengan kecantikan seperti itu hanya muncul sekali dalam kurun seribu tahun.

Saya tak sanggup kalau harus melihat dia tersenyum, sebab senyumnya, ya Rab, bisa membekukan sungai Nil. Setiap menatap paras wajahnya saya hanya bisa bergumam, "Robbana ma kholaqta hadza bathila, subhanaka faqina adzaban nar"
Sekelumit Kisah Tentang Imam Syafi'i

Sekelumit Kisah Tentang Imam Syafi'i

Sekelumit Kisah Tentang Imam Syafi'i

Ahmad bin Hambal menarik Ishak ke pojok masjidil haram. Dia ingin menyampaikan kabar yang akan membuat koleganya, sesama penuntut ilmu itu, tercengang. 

"Cepat ikut aku! Kudengar di sana ada laki-laki cerdas yang mempunyai nalar hebat dalam fikih" 

Ishak putra Rohaweh itu tampak tak setuju, "Apa kita akan meninggalkan majelis hadis Ibn Uyaynah hanya gara-gara pemuda itu?!" 

"Ngaji Hadis bisa lain waktu, Ishaq! Tak masalah ketinggalan majelis ibn Uyaynah, riwayatnya bisa diperoleh dari yang lain. Tapi kecemerlangan otak pria itu tidak akan kita temukan bandingannya di belahan bumi manapun!!"

Orang yang mengunjungi tanah suci pada akhir abad kedua Hijriah akan menjumpai halaqoh keilmuan yang istimewa. Di tengah majelis itu duduk penuh wibawa laki-laki sawo matang, mengkhotbahkan konsep Nasikh Mansukh yang menjadi terobosan ilmiah paling spektakuler pada zamannya. Pemuda kharismatik nan cerdas tiada tara itu bernama Muhammad bin Idris Al Syafii. Pria ini yang dimaksud oleh Ahmad bin Hanbal di atas.

Sejak belia Imam Syafii mempunyai sifat-sifat utama untuk menjadi pewaris Nabi. Ia wara', penyabar dan rendah hati. Ia juga rajin, ulet serta memilik etos belajar yang tinggi. Didukung dengan kapasitas otak berjuta-juta Gigabyte, kepalanya yang mengilap itu mampu menampung Al-Qur'an, puluhan ribu hadits dan ratusan ribu syair-syair jahiliah. 

Demi mendalami bahasa fushah Syafii kecil tinggal di pedalaman, hidup nomaden bersama suku Hudzail. Dari kaum badui itu beliau menguasai sastra arab. Sastra erat hubungannya dengan kebudayaan arab kuno. Kaum arab lampau merekam sejarahnya melalu syair dan mewariskannya secara turun temurun. Berkat kecerdasannya, dalam waktu singkat Syafii menjelma menjadi pakar bahasa arab dan menjadi rujukan dalam seni sastra. Ia sangat fasih mengolah kata serta menguasai kemampuan komunikasi massa tingkat tinggi. Kelak para intelektual Islam menjulukinya sebagai "Khotibul Ulama"; Orator cendekiawan muslim. 

Imam Syafii memenuhi segala kriteria menjadi mutjahid mutlak. Tentu sosok seperti beliaulah yang dimaksud Rasul dalam SabdaNya; 

نضر الله امرأ سمع منا شيئا فبلغه كما سمع، فرب حامل فقه إلى من هو أفقه منه، ورب حامل فقه ليس بفقيه.

Seolah Nabi berpesan pada para perawi sabdaNya: "Sampaikan hadisKu dengan benar, hapal baik-baik! Jangan dikurangi jangan ditambah! Masalah pemahaman dan istinbath biar Syafii yang urus!!"

Imam Syafii sangat tekun belajar. Ibunya selalu mengarahkan agar ia mendedikasikan hidupnya untuk ilmu. Pria keturunan Quraisy itu adalah orang berbakat dengan daya analisis yang tajam. Beliau mampu menerjemahkan dalil universal menjadi hukum parsial fikih dan memberi panduan istinbath yang efektif, sistematis dan metodologikal. 

Sebelum Syafii lahir metode istinbath itu hanya eksis dalam angan-angan para mujtahid. Metode ini adalah sesuatu yang unexpressable; bisa dirasakan tapi tak bisa diungkapkan. Tidak semua orang memiliki talenta ijtihad. Namun Syafii merubahnya menjadi dispilin ilmu yang riil, sehingga bisa ditelaah oleh siapapun, metode ini akhirnya populer dengan istilah Ushul fikih. Al Risalah adalah kodifikasi pertama beliau dalam bidang itu.

"Dulu fikih terkunci rapat di dalam sebuah peti, dan Syafii adalah kuncinya" Puji salah satu ulama. 
Imam Syafii lahir tahun 150 H dimana dunia islam saat itu berada di antara dua hegemoni ilmiah yang saling tarik menarik. Disatu sisi umat islam dikejutkan dengan adanya ledakan analogi di Irak, yang dipicu oleh kecerdasan kreatifitas otak kiri Abu Hanifah. Konon warisan hukum fikih dari kias para ulama Irak itu bisa mengatasi problematika umat sampai ratusan tahun setelahnya. Disisi lain, di Madinah muncul corak fikih konvensional yang lebih monoton. Amat konservatif dan fundamental. Masyarakat Hijaz tidak butuh kias karena selain tak banyak masalah baru Madinah adalah kota dengan gelimang riwayat hadis dan kaya raya akan atsar Sahabat. Bahtera aliran ini dinahkodai oleh Imam Malik bin Anas. 

Kedua madrasah itu, yang lazim disebut dengan ahlur ra'i dan ahlul hadis, merupakan mercusuar keilmuan Islam. Kesanalah para pemuda melecutkan kuda-kudanya, berbondong-bondong demi merasakan candu ilmu agama. Termasuk juga Syafii. 

Syafii berkenalan dengan fikih di Hijaz. Ia belajar kepada imam Malik. Bahkan pada kunjungan pertama ke Irak, ia digelari dengan Nashirus sunnah, sebab ia menjadi tonggak pembela madrasatul hadis. Ia mendebat cendekiawan ahlur ra'i yang tersebar di seantero Kufah dengan mengibarkan bendera mazhab Malik.

Di Irak Syafii menetap selama dua tahun. Momen singkat itu ia gunakan dengan baik. Selama dua tahun itu ia menyerap ilmu madrasatur ra'i melalui murid-murid Abu Hanifah, terutama Muhamad bin Hasan Al Syaibani.



Setelah dirasa cukup menimba ilmu Syafii bertolak ke Mekkah. Dan kembalinya beliau itu, tak dinyana, merupakan momentum lahirnya Mazhab baru di dalam dunia persilatan fikih. Sampai di tanah suci, ia iktikaf di masjidil haram sembari melakukan perenungan terhadap kedua mazhab.

Syafii melakukan elaborasi pada argumentasi mereka, mengkomparasi dalil, menimbang, mendalami dan akhirnya setelah sekian lama, ia muncul dengan pendapat yang berbeda. Sekarang ia bukan lagi mukalid, ia Mujtahid. Kemampuannya berijtihad itu mewajibkannya untuk tegak di atas kaki sendiri, tak ikut orang lain. Sebagai penegasan bahwa mazhabnya telah berdiri Syafii mengarang kitab "Ikhtilafu Malik" dan "Ikhtilaful Iroqiyyin"; Pembangkangan terhadap Malik dan pemberontakan terhadap ahli Irak.

Mazhab imam Syafii berkembang pesat dan tersebar secepat kilat ke seluruh penjuru. Pada abad-abd selanjutnya, Aliran beliau gonta ganti dengan Mazhab Hanafi merajai daerah Islam. Pada masa khilafah Abbasiyah aliran Abu Hanifah lebih dominan sebab ia dijadikan mazhab tunggal dalam pemerintahan. Namun ketika Abbasiyah runtuh Kekhalifahan setelahnya, yaitu Ayyubiyah, mengadopsi mazhab Syafii sebagai undang-undang negara, yang sekaligus menjungkal dominasi aliran Hanafi. Penganut Mazhab Syafii sampai detik ini meluas ke Asia tenggara, dibawa oleh pedagang Hadhramaut. Sedang Mazhab Hanafi sangat damai dan tentram dipeluk warga Pakistan, India dan sekitarnya.

Mazhab Maliki suatu ketika tersebar di Mesir, tapi sejak Syafii tinggal dan wafat disana, Mesir terbelah dua. Akhirnya Mazhab Maliki terdampar jauh ke Andalus dan Afrika; Tunisia, Burqina faso dll. 

Sedang tempat lahirnya aliran imam Malik, Hijaz, hari ini dikangkangi kaum berjenggot tebal yang menutup kepalanya dengan sorban. Tidak dililitkan namun sorban itu dipakai seperti taplak meja, dan disetrika di bagian tengah agar menguncup seperti ujung atap rumah panggung orang Padang. Golongan ini tempramen, sedikit saja kena senggol bisa menyemburkan makian khasnya: Harom! Hadza BID'AH! KUFR! SYIRK!! Mereka mengaku bermazhab Hanbali, tapi pengikut Imam Ahmad sendiri menolaknya, menganggap mereka sempalan dari mazhab keempat itu. 

Aku beruntung pernah membaca kisah Imam Syafii. Jauh-jauh sekolah ke luar negeri aku tak merasa rugi karena aku bisa berdialektika dengan pemikiran beliau. Apalagi menelaah kitab Al Um, sungguh merupakan nikmat tersendiri. Tak dapat ijazah s1 pun tak apa-apa.

Lebih-lebih ketika beliau memaparkan argumennya dengan gaya dialog; Fain qulta kadza.. Fal jawab kadza.. Wain qulta kidza.. Faaqulu kidza.. Aku benar-benar terpesona. Aku terbawa seolah Imam Syafii mengajakku berduskusi. Dan ajaib! Secara imajener Imam itu menjelma dari kitab Al Um duduk di depanku. Aku tak percaya, berkali-kali kekucek mataku untuk memastikan. Nyata, Imam Syafii ada di dalam perpus kuliah. Maka tak kusia-siakan kesempatan berharga ini. Ini karomah. Ingin kutanyakan padanya apa rahasianya sehingga ia bisa pintar begitu?

"Sederhana anak muda. Kalau makan kunyah 40 kali!" Jawabnya singkat.

Aku kaget bukan main. Imam Syafii selain pandai ilmu agama, juga jago ilmu kedokteran. Rupanya ini yang membuat ia jadi mujtahid. Benar-benar sederhana! Pantas aku tak kunjum paham ushul fikih, semasa kuliah kalau makan memang tak pernah kukunyah. Sebab kawan tahu, di kuliah satu nampan jatah makan dikerubuti lima orang. Jika harus dilumatkan dulu bisa kalah serangan.

Imam Syafii duduk khusu' di tengah-tengah perpus. Aku yang baru mengetahui rahasia agung itu masih tak bisa menyembunyikan rasa terkejutku. Aku ingin memastikan padanya tentang korelasi makan dengan ijtihad? Apa sandaran beliau? Apa mungkin dalilnya sebuah hadis sahih yang tertelan zaman, tidak sampai riwayatnya pada kita?! Aku nervous menyadari sebentar lagi aku akan jadi mujtahid. 

"Kenapa harus 40 kali, Imam?"

"BIAR GAK KESELEK BEGO!!!" Ah, rupanya aku kebanyakan nonton INI TALKSHOW. Yang duduk di depanku tadi bukan Imam Syafii, ia pasti Andre Taulany.

Tapi yang jelas dari semua kalam Imam Syafii, ada satu kata beliau yang membuatku terkesan. "MAN LAM YATAZAWWAJ MISHRIYYAH FAHUA A'ZAB" Belum nikah namanya kalau tidak dapet cewek Mesir, kira-kira begitu maksudnya.

Maka aku mencoba melobi Yang Di Atas prihal jodohku, baik yang telah digariskan di Lauh Mahfudz atau yang sedang ditimbang-timbang di TanganNya; Tuhan! Aku ingin menikah dengan mahasiswi Azhar saja! 
14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Kita pasti sudah akrab dengan sejarah Indonesia. Bahkan, zaman pra-sejarah pun ikut kita pelajari sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kita diberitahu bahwa Kerajaan Kutai adalah kerajaan pertama di Indonesia dan Belanda menjajah Indonesia selama 3,5 abad (meskipun ini kemudian menuai perdebatan). Tidak lupa, ada juga kisah Keris Mpu Gandring yang digunakan untuk membunuh keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung.

Buku sejarah yang begitu tebal dan tidak ada habisnya dibahas dari sekolah dasar hingga menengah atas seakan telah merekam seluruh peristiwa bersejarah di Indonesia. Tapi, sebenarnya ada lho fakta-fakta menarik dari sejarah yang nggak diajarkan di bangku sekolahmu.

Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Bung Karno Tidak Puasa Saat Proklamasi


14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah


Mungkin kamu tahu bahwa hari proklamasi kemerdekaan RI jatuh pada bulan Ramadhan. Namun, saat itu Bung Karno tidak berpuasa karena sedang sakit akibat gejala malaria tertiana. Ketika dibangunkan di pagi hari, Bung Karno mengeluh badannya terasa seperti meriang. Setelah disuntik dan minum obat, beliau kembali tidur dan bangun pada pukul 09.00 WIB untuk bersiap-siap memroklamirkan kemerdekaan RI pada pukul 10.00 WIB.

Bayangkan betapa membaranya semangat beliau memproklamasikan kemerdekaan. Kamu pasti nggak menyangka ‘kan kalau saat itu beliau sedang sakit?

2. Marcopolo bertemu dengan masyarakat kanibal di Nusantara

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Pada perjalanannya ke Nusantara tahun 1292, Marco Polo terkejut melihat adanya masyarakat yang memakan daging manusia. Kejadian ini ia temukan di pesisir Sumatra.

Ketika berada di Kerajaan Dagroian (daerah Pidie, Aceh), Marco Polo melihat masyarakat setempat memakan daging kerabatnya yang sedang sakit parah dan tidak bisa disembuhkan. Di daerah tersebut, jika ada kerabat yang sakit maka akan dipanggil penyihir untuk memeriksa apakah penyakit tersebut bisa disembuhkan atau tidak. Jika tidak bisa, maka akan dipanggil orang khusus untuk membunuh kerabat yang sakit. Lalu setelah mati, dagingnya akan dimasak dan disantap bersama.

3. Koran yang terbit dan yang dibredel di Indonesia adalah Koran yang sama

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen memerintahkan anak buahnya untuk membuat lembaran berita internal yang berisi informasi mengenai kedatangan dan keberangkatan kapal-kapal niaga. Lembaran berita tersebut ditulis tangan sebanyak 4 halaman dan diberi nama Memorie der Nouvelles. Ini merupakan cikal bakal koran Bataviase Nouvelles, yang diterbitkan pertama kali pada 7 Agustus 1744 — setelah masuknya mesin cetak ke Hindia Timur.

Bataviase Nouvelles merupakan koran pertama yang diterbitkan di Batavia, maupun Indonesia. Koran ini diterbitkan seminggu sekali sebanyak 4 halaman dengan layout dua kolom.

Namun sayangnya, baru saja kontrak penerbitan diperpanjang, koran ini harus dibredel pada 20 November 1745 karena anggota Dewan Direktur VOC di Amsterdam takut akan banyak rahasia VOC yang terbongkar ke publik.

4. Stasiun KA Bandung Dirancang untuk Persiapan Pemindahan Ibukota dari Jakarta ke Bandung

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Bandung memang telah memiliki stasiun kereta api sejak tahun 1884. Tapi, bangunan stasiun yang sampai sekarang masih berdiri adalah rancangan tahun 1928, yang khusus dirancang arsitek Belanda EH de Roo karena niat Belanda memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Jakarta ke Bandung. Saat itu, pihak Belanda telah merencanakan pembangunan 14 kantor dan perumahan bagi 1.500 pegawainya.

Niat ini tak sempat terpenuhi karena pada tahun 1930-an Belanda mengalami krisis ekonomi. Kondisi keuangannya juga makin terpuruk karena okupasi Nazi Jerman di masa Perang Dunia II.

5. Permen Jahe Sempat Jadi Komoditas Utama Batavia

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Indonesia memang dikenal bangsa Barat sebagai wilayah penghasil rempah-rempah dengan kualitas sangat baik, seperti lada dan jahe. Siapa sangka bahwa rempah-rempah tersebut tumbuh dengan baik dan subur di daratan Batavia, yang sekarang menjadi Jakarta. Bahkan pada tahun 1778, Batavia harus memproduksi 4,5 ton permen jahe untuk diekspor ke Belanda.

6. Bendera Pusaka dari Sprei dan Penjual Soto

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Bendera merah putih untuk keperluan kemerdekaan sebenarnya telah dibuat oleh Fatmawati, istri Bung Karno, sebelum tanggal 16 Agustus 1945. Akan tetapi, bendera tersebut dianggap terlalu kecil untuk dikibarkan. Akhirnya, Fatmawati membongkar lemari mencari kain untuk membuat bendera baru. Ia menemukan kain sprei berwarna putih. Bagian merahnya dibeli dari seorang penjual soto oleh pemuda bernama Lukas Kastaryo.

7. Demi Patung Dirgantara, Bung Karno Jual Mobil

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Pembuatan Patung Dirgantara atau Patung Pancoran sempat terhenti karena peristiwa Gerakan 30 September/PKI, yang membuat posisi Bung Karno sebagai Presiden Indonesia di ujung tanduk. Demi menyelesaikan pembuatan patung tersebut, Bung Karno harus menjual salah satu mobilnya dan menyerahkan dana sebesar Rp 1,7 juta kepada Edhi Sunarso, sang pemahat.

Edhi pun juga turut merogoh kocek pribadi hingga mengutang ke pemasok bahan pembuatan patung. Sayangnya, sebelum patung itu diresmikan, Bung Karno telah meninggal dunia terlebih dulu. Edhi yang melihat iringan mobil jenazah Bung Karno saat sedang melakukan penyelesaian akhir di atas patung kemudian turun, dan ikut mengiringi kepergian Bung Karno.

8. Penulis Naskah Pidato Bahasa Inggris Bung Karno yang Pertama Berdarah Viking

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Untuk siaran pidato bahasa Inggrisnya yang pertama, Bung Karno mempercayakan naskahnya pada K’ tut Tantri, seorang perempuan warga negara Amerika kelahiran Skotlandia yang juga berdarah Viking. Perempuan bernama asli Muriel Stuart Walker tersebut turut bergerilya bersama Bung Tomo dan pejuang lainnya di Jawa Timur sebelum akhirnya tinggal di Yogyakarta, ibukota negara Indonesia pada saat itu.

K’tut Tantri menetap di Indonesia selama 15 tahun dan turut mengobarkan semangat perjuangan bagi bangsa ini.

9. Draf Naskah Proklamasi Sempat Hilang

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Draf naskah proklamasi ditulis tangan oleh Bung Karno dan dibantu Bung Hatta dalam pemilihan kata-katanya. Setelah acara proklamasi selesai, draf tersebut menghilang. Wartawan senior Indonesia bernama BM Diah menemukan draf tersebut terbuang di tempat sampah. BM Diah lalu menyimpan draft tersebut selama 46 tahun 9 bulan 19 hari, sebelum akhirnya diserahkan ke pemerintah pada 29 Mei 1992.

10. Nusantara Bukan Wilayah Majapahit

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Selama ini kita mengetahui bahwa daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit mencakup seluruh Nusantara, bahkan Thailand dan Campa. Padahal sebenarnya tidak ada bukti pasti yang menjelaskan bahwa wilayah Majapahit mencakup seluruh Nusantara. Daerah efektif kekuasaan Majapahit hanya sebatas Pulau Jawa saja, bahkan hanya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nusantara merupakan koalisi antara kerajaan-kerajaan untuk kepentingan keamanan dan perdagangan regional.

Anggapan bahwa kerajaan-kerajaan tersebut memberi upeti kepada Majapahit adalah salah tafsir karena tidak ada keterangan sedikitpun di kitab Negarakretagama yang menyatakan adanya upeti, apalagi upeti tanda tunduk kepada Majapahit.

Menurut Negarakretagama, Majapahit memang sering mengadakan pesta yang mengundang kerajaan-kerajaan dan wakil kerajaan tersebut membawa hadiah bagi Raja Majapahit. Namun, itu hanya hadiah, bukan upeti.

11. Belanda Membawa Narapidana Pertama ke Nusakambangan

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Pulau Nusakambangan dikenal sebagai Alcatraz-nya Indonesia. Narapidana-narapidana kelas kakap banyak yang dikirim ke pulau ini untuk menjalani masa hukuman. Titik awal masuknya narapidana ke Pulau Nusakambangan adalah saat Belanda akan membangun benteng pertahanan di pulau tersebut.

Untuk membangun benteng, Belanda memanfaatkan tenaga narapidana dari beberapa penjara di Jawa. Narapidana-narapidana tersebut dibawa Belanda ke Pulau Nusakambangan dan akhirnya melanjutkan hukumannya di pulau tersebut.

12. Kemelut Perang Diponegoro

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro ternyata sudah direncanakan sebelumnya, sejak terjadi “degradasi moral” di dalam keraton karena pengaruh Belanda. Selain itu, menurut sebuah naskah berbahasa Jawa di Keraton Yogyakarta, terlihat adanya keterlibatan Keraton Yogyakarta dalam penjebakan Pangeran Diponegoro di Magelang dengan menyelundupkan Raden Adipati Abdullah, saudara ipar dari Pangeran Diponegoro sekaligus patih yang saat itu menjabat.

13. Indonesia Pernah Masuk Piala Dunia

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Ternyata pada tahun 1938, Indonesia pernah masuk dalam jajaran tim yang bertanding di Piala Dunia, dengan nama Hindia Belanda. Tim Hindia Belanda merupakan tim Asia pertama yang tampil di Piala Dunia 1938. Koran Perancis L Equipe edisi 6 Juni 1938 memberitakan bahwa gaya menggiring bola tim Hindia Belanda sangat brilian, tetapi tidak cukup baik untuk pertahanan.
Terlibatnya tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 bukan dengan dukungan PSSI, melainkan Nederlandcshe Indische Voetbal Unie (NIVU), organisasi sepakbola pemerintah kolonial Belanda. Kapten dari tim Hindia Belanda ini adalah seorang dokter.

14. Hotel Indonesia Adalah Hotel Bintang 5 Pertama di Asia Tenggara

14 Fakta Menarik Seputar Sejarah Indonesia Yang Tidak Diperoleh Dari Sekolah

Hotel Indonesia merupakan salah satu dari proyek mercusuar Bung Karno untuk membangkitkan harga diri bangsa Indonesia. Hotel Indonesia dibangun bersama dengan Tugu Selamat Datang dan dipersiapkan untuk menyambut tamu mancanegara peserta Asian Games IV/1962. Kemudian, hotel ini dimanfaatkan untuk menyambut tamu penting kenegaraan. Dirancang oleh arsitek asal Amerika Serikat, Hotel Indonesia menjadi gedung pencakar langit pertama di Indonesia dan hotel bintang 5 pertama di Asia Tenggara.Nah, itu dia beberapa fakta sejarah Indonesia yang cukup unik, tapi mungkin tak pernah diterangkan oleh guru Sejarah-mu.
Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya

Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya


‘Zionisme’ berasal dari kata Ibrani “zion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds (Jerusalem). Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri.

Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya Portalnews NKRI


Zionisme kini tidak lagi hanya memiliki makna keagamaan, tetapi kemudian beralih kepada makna politik, yaitu suatu gerakan pulangnya ‘diaspora’ (terbuangnya) kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali bersatu sebagai sebuah bangsa dengan Palestina sebagai tanah-air bangsa Yahudi dengan Jerusalem sebagai ibukota negaranya. Istilah Zonisme dalam makna politik itu dicetuskan oleh Nathan Bernbaum, dan ‘Zionisme Internasional’ yang pertama berdiri di New York pada tanggal 1 Mei 1776, dua bulan sebelum kemerdekaan Amerika-Serikat dideklarasikan di Philadelpia.

Gagasan itu mendapatkan dukungan dari Kaisar Napoleon Bonaparte ketika ia merebut dan menduduki Mesir. Untuk memperoleh bantuan keungan dari kaum Yahudi, Napoleon pada tanggal 20 April 1799 mengambil hati dengan menyerukan, ‘Wahai kaum Yahudi, mari membangun kembali kota Jerusalem lama”. Sejak itu gerakan untuk kembali ke Jerusalem menjadi marak dan meluas.

Adalah Yahuda al-Kalai (1798-1878), tokoh Yahudi pertama yang melemparkan gagasan untuk mendirikan sebuah negara yahudi di Palestina. Gagasan itu didukung oleh Izvi Hirsch Kalischer (1795-1874) melalui bukunya yang ditulis dalam bahasa Ibrani ‘Derishat Zion’ (1826), berisi studi tentang kemungkinan mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina.

Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya Portalnews NKRI


Buku itu disusul oleh tulisan Moses Hess dalam bahasa Jerman, berjudul ‘Roma und Jerusalem’ (1862), yang memuat pemikiran tentang solusi “masalah Yahudi” di Eropa dengan cara mendorong migrasi orang Yahudi ke Palestina. Menurutt Hess kehadiran bangsa Yahudi di Palestina akan turut membantu memikul “misi orang suci kulit putih untuk mengadabkan bangsa-bangsa Asia yang masih primitif dan memperkenalkan peradaban Barat kepada mereka”. Buku ini memuat pemikiran awal kerja-sama konspirasi Yahudi dengan Barat-Kristen menghadapi bangsa-bangsa Asia pada umumnya, dan dunia Islam pada khususnya. Untuk mendukung gagasan itu berdirilah sebuah organisasi mahasiswa Yahudi militan bernama ‘Ahavat Zion’ di St.Petersburg, Rusia, pada tahun 1818, yang menyatakan bahwa, “setiap anak Israel mengakui bahwa tidak akan ada penyelamatan bagi Israel, kecuali mendirikan pemerintahan sendiri di Tanah Israel (Erzt Israel)”.

Konsepsi tentang wilayah dan batas-batas negara Israel didasarkan pada Kitab Taurat. Berdasarkan Taurat, wilayah Israel luasnya “dari sungai Nil sampai sungai Tigris” yang kira-kira mendekati kekuasaan Emporium Assyria (sekitar 640 Sebelum Masehi)

Buku Moses Hess ‘Roma und Jerusalem’ (1862) mendapat perhatian dan dukungan dari tokoh-tokoh kolonialis Barat karenan beberpa pertimbangan :

  • Adanya konfrontasi antara Eropa dengan daulah Usmaniyah Turki di Timur Tengah
  • Bangsa-bangsa Eropa membutuhkan suatu ‘bastion’ (bentang/pertahanan-red.) politik yang kuat di Timur Tengah dan ketika kebutuhan itu muncul orang Yahudi menawarkan diri secara sukarela menjadi proxi (wakil-red.) negara-negara Eropa
  • Kebutuhan bangsa-bangsa Eropa itu sesuai dengan aspirasi kaum Yahudi untuk kembali ke Plaestina.
  • Gerakan Zionisme akan berfungsi membantu memecahkan “masalah Yahudi” di Eropa
Perlu dicatat bahwa gerakan Zionisme mulai mendapatkan momentumnya berkat bantuan dana keuangan tanpa reserve (tanpa batas-red.) dari Mayer Amschel Rothschilds (1743-1812) dari Frankfurt, pendiri dinasti Rothschilds, keluarga Yahudi Paling kaya di dunia.


Pendukung kuat dari kalangan poitisi Eropa terhadap gerakan Zionisme datang terutama dari Llyod Gerge (perdana menteri Inggris), Arthur Balfour (menteri luar-negeri Inggris), Herbert Sidebotham (tokoh militer Inggris), Mark Sykes, Alfred Milner, Ormsby-Gore, Robert Cecil, J.S. Smuts, dan Richard Meinerzhagen.

Sebenarnya sejak tahun 1882 Sultan Abdul Hamid II telah mengeluarkan sebuah dekrit yang berbunyi, meski sultan “sepenuhnya siap untuk mengizinkan orang Yahudi beremigrasi ke wilayah kekuasaannya, dengan syarat mereka menjadi kawula daulah Usmaniyah tetapi baginda tidak akan mengizinkan mereka meneap di Palestina”2. Alasan pembatasa ini karena, “Emigrasi kaum Yahudi di masa depan akan membuahkan sebuah negara Yahudi”.

Pada waktu itu sebelum imigrasi kaum Yahudi yang massif (secara besar-besaran-red.) dimulai kira-kira hanya ada 250.000 jiwa orang Yahudi di antara 0,5 juta jiwa penduduk Arab di Palestina4. Meski ada titah sultan tersebut, arus imigrasi orang Yahudi tetap berhasil menerobos masuk ke Palestina secara diam-diam dan berlanjut bahkan melalui cara sogok sekalipun.

Menjelang 1891 beberapa pengusaha Palestina mengungkapkan keprihatinan mereka mengenai kian meningkatnya imigran Yahudi, sehingga menganggap perlu mengirimkan telegram ke Istambul menyampaikan keluhan tentang kekhawatiran itu yang mereka simpulkan akan mampu memonopoli perdagnagn yang akan menjadi ancaman bagi kepentingan bisnis setempat, yang pada gilirannya akan menjadi ancaman politik.

Pada tahun 1897, tahun yang bersamaan dengan ‘Kongres Zionisme I’, mufti Jerusalem, Muhammad Tahir Husseini, ayah dari Hajj Amin Husseini, memimpin sebuah komisi yang dibentuk khusus untuk memepelajari masalah penjualan tanah penduduk Arab kepada orang Yahudi. Resolusi komisi tersebut berhasil meyakinkan pemerintah kesultanan Usmaniyah mengeluarkan peraturan yang melarang penjualan tanah milik penduduk Arab kepada orang Yahudi di daerah Jerusalem untuk beberapa tahun.

Gagasan tentang gerakan Zionisme, yaitu suatu gerakan politik untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina, mulai memperlihatkan konsepnya yang jelas dalam buku ‘Der Judenstaat’ (1896) yang ditulis oleh seorang tokoh Yahudi, yang kemudian dipandang sebagai Bapak Zionisme, Theodore Herzl (1860-1904). Ia salah seorang tokoh besar Yahudi dan Bapak Pendiri Zionisme modern, barangkali eksponen (yang menerangkan/menguraikan-red.) filosof tentang eksistensi bangsa Yahudi yang memiliki pandangan paling jauh ke depan yang dimiliki generasi Yahudi di sepanjang sejarah mereka. Ia tidak pernah ragu akan adanya “bangsa Yahudi”. Ia menyatakan tentang eksistensi itu pada setiap kesempatan yang ada. Katanya’ “Kami adalah suatu bangsa – Satu Bangsa”.

Program Politik Kaum Yahudi


Ia dengan jernih melihat apa yang disebutnya sebagai “masalah Yahudi” sebagai suatu masalah politik. Dalam kata pengantar bukunya itu, ‘Der Judenstaat’, ia berkata,

“Saya percaya, bahwa saya memahami anti-Semitisme, yang sesungguhnya merupakan gerakan yang sangat kompleks. Saya mempertimbangkannnya dari sudut pandang orang Yahudi, tanpa rasa takut maupun benci. Saya percaya anasir (unsur-red.) apa yang saya lihat di dalamnya yang merupakan permainan yang jorok, sikap iri yang lazim, warisan prasangka, intoleransi keagamaan, dan juga pretensi (keinginan-red.) mempertahankan nilai-nilai. Saya rasa “masalah Yahudi” lebih banyak berbau sosial ketimbang keagamaan ,meskipun saya tidak menafikan kadangkala muncul hal itu dalam bergam bentuknya. Maalh itu pada hakekatnya adalah “masalah nasional” yang hanya mungkin diselesaikan dengan membuatnya masalah dunia politik yang dapat didiskusikan dan dikendalikan oleh bangsa-bangsa dunia beradab di suatu majelis”.

Theodore Herzl tidak hanya menyatakan bahwa kaum Yahudi harus membentuk suatu bangsa, tetapi dalam mengubungkan tindakan dari bangsa Yahudi ini kepada dunia, Herzl menulis,

“Bila kita tenggelam, kita akan menjadi suatu kelas proletariat revolusioner, pamanggul ide dari suatu partai revolusioner; bila kita bangkit, dipasikan akan bangkit juga kekuasaan keuangan kita yang dahsyat”.

Pandangan ini yang nampaknya pandangan yang sejati, merupakan pandangan yang telah lama terpendam di dalam benak kaum Yahudi, yang juga dikemukakan oleh Lord Eudtace Percy, dan diterbitkan ulang, agaknya dengan persetujuan ‘Jewish Chronicle’ Kanada, yang untuk membacanya membutuhkan kehati-hatian.

“Liberalisme dan nasionalisme dengan hingar bingar membukakan pintu ghetto (1.kampung Yahudi di kota, 2 bagian kota yang didiami terutama oleh golongan minoritas – red..)dan menawarkan kewarga-negaraan dengan kududukan yang sejajar kepada kaum Yahudi. Kaum Yahudi memasuki Dunia barat, menyaksikan kekuasaaan dan kejayaannya, memanfaatkan dan menikmatinya, turut-serta membangun di pusat peradabannya, memipin, mengarahkan dan mengeksploitasinya – namun kemudian menolak tawaran itu. Lagipula – dan hal ini sesuatu yang menarik – nasionalisme dan liberalisme Eropa, pemerintahan dan persamaan dalam demokrasi menjadi makin tidak tertangguhkan olehnya dibandingkan dengan penindasan dan kedzaliman despotisme (kelaliman-red.) sebelumnya.”

“Di suatu dunia dengan yurisdiksi(hak hukum – red.) kedaulatan negara yang dibatasi dengan jelas oleh batas-batas wilayah teritorial negara yang sepenuhnya disepakati secara internasional, (orang Yahudi) tinggal memiliki dua pilihan yang membuka kemungkinan baginya untuk memperoleh perlindungan : pertama, atau ia harus meruntuhkan pilar-pilar sistem negara nasional yang ada secara keseluruhan; kedua, atau ia harus menciptakan sendiri suatu wilayah teritorial yang seluruhnya berada di dalam genggaman yurisdiksi kedaulatannya. Mungkin disini terletak penjelasan tentang hubungan Bolshevisme (bahasa Rusia:’minoritas’) Yahudidan Zionisme, karena dewasa ini kaum Yahudi di Timur nampaknya terombang-ambing memilih di antara keduanya. Di Eropa Timur Bolshevisme dan Zionisme sering terlihat tumbuh bersamaan, persis seperti peran kaum Yahudidalam membentukpemikiran tentang ‘republikeinisme’ dan sosialisme sepanjang abad kesembilan-belas sampai kepada Revolusi Turki Muda di Istambul yang belum lewat satu dasawarsa yang lalu. Semuanya berlangsung bukan karena kaum Yahudi mempedulikan sisi positif dari falsafah-falsafah radikal itu, bukan karena ingin menjadi peserta dari nasionalisme atau demokrasinya kaum non-Yahudi, tetapi ‘karena tidak ada sistem pemerintahan yang ada pada kaum non-Yahudi, yang benar-benar memiliki makna bagi orang Yahudi, karena pa yang ada hanya menimbulkan kemuakan baginya’”.

Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya Portalnews NKRI


Para pemikir Yahudi, semuanya tanpa kecuali,memandang apa yang ada pada kaum non-Yahudi seperti itu. Orang Yahudi selalu bersikap bertentangan dengan skema kaum non-Yahudi dalam segala hal. Kalau sekiranya kepada orang Yahudi diberikan kebebasa penuh untuk memilih, dapat dipastikan ia akaj memilih untuk menjadi seorang republikein yang anti-kerajaan, seorang sosialis yang anti-republik, atau seorang Bolshevis yang anti-sosialis.

Apa yang menjadi penyebab sikap yang nyeleneh ini ?

Pertama, Kekurang-mampuan orang Yahudi dalam memahami demokrasi. Watak orang Yahudi terbentuk oleh budaya dan agamanya cenderung otoriter. Demokrasi barangkali baik bagi orang lain, tetapi bagi orang Yahudi dimana pun ia berada, ia akan mendirikan suatu masyarakat aristokrasi atau sejenisnya (periksa tentang : ajaran Qabala). Demokrasi oleh orang Yahudi digunakan hanyalah sebagai alat, sekedar buah kata, yang digunakan oleh para juru-bicara Yahudi sekedar sebagai suatu mekanisme perlindungan kelompok (‘defence mechanism’) di tempat-tempat dimana mereka ditindas, serta untuk mendapatkan status persamaan; begitu telah mencapai kedudukan dan status yang sama, mereka segera berusaha mendapatkan privilese, hak-hak istimewa, yang seolah-olah telah menjadi hak mereka – seperti pada ‘Konperensi Perdamaian’ Versailes 1918 – menjadi contoh yang mengagetkan banyak orang. Kaum Yahudi sekarang ini adalah satu-satunya masyarakat dimana hak-hak khusus dan privilese yang dicantumkan khusus bagi mereka dituliskan di dalam ‘perjanjian-perjanjian’ dunia (teks aseli hak-hak istimewa bagi orang Yahudi dalam perjanjian Perdamaian Versailes 1918 dipublikasikan pada bulan Juli 1920; harap dirujuk juga kepada hak-hak khusu dan privilese istimewa Israel dalam resolusi-resolusi PBB).

Kedua, Terhadap sikap anti-Yahudi, ada tiga penyebab yang biasanya dijadikan mereka sebagai argumen : 1. prasangka keagamaan, 2. prasangka ekonomi, 3.antipati sosial. Masalahnya apakah kaum Yahudi itu menyadari atau tidak, bahwa bagi orang non-Yahudi, Yudaisme itu dipandang sebagai salah satu “agama wahyu” bersama-sama dengan Kristen dan Islam. Prasangka yang ada lebih banyak bersumber dari sebab non-keagamaan soal kecemburuan ekonomi barangkali memang ada. Sudah bukan rahasia lagi keuangan dunia itu ada dalam genggaman para bankir Yahudi; keputusan dan kebijaksanaan mereka menjadi hukum ekonomi-keuangan bagi dunia barat. Kecemburuan ekonomi mungkin dapat menjelaskan sebagai salah satu sebab dari timbulnya sikap anti-Yahudi; tetapi isa juga kecemburuan ekonomi yang menimbulkan “masalah Yahudi” itu merupaka unsur kecil dari suatu problema yang lebih besar. Sedangkan antipati-sosial di masyarakat Barat yang berkulit putih dan Kristen – beban antipati itu di Barat bukan hanya dipikul oleh orang Yahudi, tetapi juga oleh orang kulit hitam, orang Cina, orang muslim, serta komnitas lain di dunia ini, yang jumlah mereka justru lebih banyak daripada orang Yahudi. Orang Yahudi itu tidak pernah menyebut-nyebut politik sebagai penyebebnya, atau jika mereka nyaris keseleo lidah yang bernada sugestif ke arah itu, mereka segera membatasinya, atau melokalisasinya. unsur politik yang inheren (yang melekat/yang menjadi sifatnya – red.) melekat pada masyarakat Yahudi, ialah dimana saja mereka itu berada mereka senantiasa akan membentuk semacam “negara” sendiri di dalam negara tuan-rumah. Keterttutupan sikap masyarakt Yahudi yang lebih mengutamakan hubungan internal diantara mereka sendiri, menjadi salah satu penyebab utamayang menimbulkan sikap anti Yahudi.


Nasionalisme Yahudi

Tidak seorang pun menyanggah kenyataan – kecuali kalau benar-benar tidak mengenal pola berpikir kaum Yahudi (periksa ‘Protokol Zionisme’) – bahwa anasir (unsur –red.) yang merusak, baik di bidang ekonomi mapun sosial di dunia sekrang ini, bukan saja diawaki, tetapijuga didanai oleh dan untuk kepentingan kaum Yahudi.

Kenyataan ini cuku lama dipendam saja oleh publik, disebabkan oleh sanggahan yang keras dari kalangan kaum Yahudi, seperti dari the Jewish Defamation League, serat kurangnya informasi tentang hal itu. Kini semua itu dimana-mana telah menjadi kenyataan.

Beberapa waktu setelah Kongres Zionisme Internasional ke-1 di Bazel itu, kecenderungan politik kaum Yahudi bekerja ke dua arah, yang satu dilkuakn secara diam-diam ditujukan untuk menghancurkan dan menguasai negara-negara non-Yahudi di seluruh dunia, yang lain lagi untuk membentuk sebuah negara Yahudi di Palestina. Berbeda dengan proyek yang pertama, proyek yang kedua dilakukan dengan meminta perhatian dan melibatkan dukungan dari seluruh dunia. Untuk kepentingan itu kaum Zioni dengan cerdik hanya meributkan soal Palestina, dan persoalan itu tidak ditengarai sebagai rencana kolonisasi yang ambisius yang tidak biasa. Gagasan tentang “Tanah Air” bagi orang Yahudi begitu crdiknya disemau, sehingga menjadi tabir-asap yang efektif intik merampas tanah milik bangsa Arab-Palestina. Agenda mengenai Palestina digunakan juga untuk menipu publik menutupi berbagi kegiatan rahasia yan mereka jalankan.

Masyarakat Yahudi internasional, pemegang termaju pemerintahan negara-negara di belakang layar dan penguasa keuangan dunia, mereka bertemu dimana sajam kapan saja, baik di masa perang maupun damai, dan bila ditanya meraka menjelaskan hanya memperbincangkan bagaimana cara dan sarannya untuk mambuka tanah Palestina bagi orang Yahudi an mereka dengan cerdik menghindar dari kecurigaan orang berkumpul-kumpul untuk membicarakan persoalan lain.

Meskipun nasionalisme Yahudi itu ada, tetapi prwujudannya ke alam suatu negara Yahudi di Palestina bukanlah merupakan proyek yang melibatkan segenap orang Yahudi. Adalh kenyataan bahwa pada awalnya orang Yahudi tidak sepenuhnya sepalat pindah ke Palestina. Kengganan itu bukan semata-mata karna tidak setuju dengan gerakan Zionisme, medkipun ideologi Zionisme sebagai motif pendorong memang menjadi penyebab exodusnya mereka dari negeri-negeri Kristen bila saaat untuk itu benar-benar telah tiba.

Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya Portalnews NKRI


Publik dunia telah lama mencurigai – mula-mula hanyha oleh beberapa gelintir orang, kemudian mulai menarik perhatian dinas-dinas intelejen pemerintahan, lalu kalangan para intelektualm akhirnya masyarakat luas – bahwa kaum Yahudi itu adalah suatu masyarakat yang ternyata berbeda dengan bangsa-bangsa yan lain di dunia, dan anehnya, mereka tidak dapat menyembunyikan identitas mereka dengan cara papaun, bahwa mereka membentuk suatu “negara” di dalam negara, bahwa meraka sangat sadar sebagai suatu bangsa, tapi bukan itu saja, mereka sangat sadarperlunya bersatu membentuk pertahanan bersama untuk mencapai tujuan bersama.


Program Pengusiran Penduduk Arab Palestina

Penduduk Arab-Palestina merupakan mayoritas sampai dengan terbentuknya Israel sebagai sebuah negara Yahudi pada tahu 1948. Negara Israel yang dicita-citakan oleh Thedore Herzl hanya akan dapat terwujud dengan cara menghapus hak-hak kaum mayoritas, atau membuat kaum Yahudi menjadi mayoritas melalui imigrasi, atau mengurangi jumlah penduduk Arab di palestina memlalui cara pembersihan etnik. Tidak ada cara lain, dan tidak mungkin membentuk sebuah negara Yahudi, kecuai dengan cara di luar prosedur demokratik tadi.

Pengusiran penduduk Arab-Palestina merupakan keharusan yang mengalir dari logika Zionisme sebagiaman dengan sangat jelas dikatakan Thedore Herzl sejak 12 Juni 1895. Pada waktu itu ia baru merumuskan gagasannya tentang Zionisme dan menuliskannya dalam buku hariannya, “Kami harus mencoba mengeluarkan kaum tidak berduit (baca: Palestina) dari perbatasan dengan cara menyediakan pekerjaan di negara-negara tetangga, dan bersamaan dengan itu mencegah mereka memperoleh lapangan kerja di negeri kami. Kedua proses, baik penghapusan kepemilikan dan pemindahan kaum miskin itu, harus dikerjakan dengan kehati-hatian dan kewaspadaan”. Pemikiran ini dibenarkan oleh sebagian bedar pendukung Zionisme sejak awal, sebagaimana dibuktikan oleh fakta bahwa tema tentang pengusiran secara konsisten terus menjadi pemikiran kaum Zionis.

Jadi sejak awal impian kaum Zionis mendirikan negara Yahudi mengacu kepada dua sasaran yang bersifat komplementer (saling melengkapi-red.) dan sekaligus mutlak, yaitu:

  • Mendapatkan sebuah tanah air.
  • Menggantikan penduduk mayoritas Arab-Palestina baik dengan cara tidak mengakui hak-hak mereka, mengatasi jumlah mereka, atau mengusir mereka dengan cara apapun.Meskipun Theodore Herzls dan kaum Zionis lainnya menjanjikan bahwa orang Yahudi dan Arab-Palestina akan hidup berdampingan secara damai dan bahagia, namun tidak ada jalan lain yang terbuka untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina sebagaimana yang didambakan oleh kaum Ziois kecuali dengan cara-cara tersebut di atas.
Kaum pendahulu Zionis menempuh beberapa strategi untuk mencapai tujuan mereka, :

  • Melalui imigrasi orang Yahudi; pada saat awal itu banyak kaum Zionis dan para pendukungnya yang sungguh-sunguh percaya bahwa imigrasi orang Yahudi dalam jumlah besar akan dapat dalam waktu singkat memecahkan “masalah Palestina” dengan membangun masyarakat Yahudi sebagai mayoritas
  • Yang lain meyakini, bilaman sejuamlah petani dan buruh-buruh Arab-Palestina ditutup kesempatan kerjanya, maka hasilnya akan memaksa orang Arab-Palestina bermigrasi meninggalkan Palestina.
  • Dalam kenyataannya, kedua rencana di atas kurang begitu diketahui, karena rencana ini lebih banyak diperbindangkan di koridor-koridokekuasaan di Berlin, London, dan Washington, dalam rangka mendapatkan tajaan (‘sponsorship’) dunia internasional, sekaligus untuk mendapatkan legitimasi terhadap klaim kaum Yahudi sebagi imbangan terhadap hal-hak kaum mayoritas penduduk Arab-Palestina.

Kaum Zionis mengembangkan strategi ini secara serentak. Ada yang berhasil dan ada pula yang yang kurang berhasil. Namun pada akhrnya opsi yang terbuka tinggal pengusiran secara paksa sebagai cara untuk mendirikan negara Yahudi yang mereka impikan.

Sementara itu berkembang strategi baru Zionisme, yaitu mendelegitimasi-kan masyarakat Arab-palestina, sambil berusaha melegitimasi-kan kehadiran orang Yahudi. Sejak awal Theodore Herzl sangat sadar bahwa komunitas Zionis membutuhkan suatu major power sebagai penaja. Usaha pertamanya ditujukan kepada Sultan Abdul Hamid II, suatu pilihan yang masuk akal, mengingat kesultanan Usmaniyah memegang kuasa mutlak atas Palestina. Bahkan sebelum secara resmi mendirikan Zionisme pada tahu 1897, Theodore Herzl pernah berkunjung ke Istambul pada tahun 1896 untuk memohon hibah tanah di Palestina dari Sultan dengan imbalan akan memberikan “bantuan keuangan untuk memulihkan kas kesultanan yang sedang kosong melalui para finansier Yahudi”. Dan yang lebih penting lagi, ialah usulnya yang ditulis sekambalinya dari kunjungan itu, memohon kepada sultan hak kaum Yahudi untuk mendeportasikan penduduk asli.

Sultan sangat tersinggung dan menolak permohonan itum dan mengirimkan pesan yang menasehati Theodore Herzl. ‘Jangan lagi membicakan soal ini. Saya tidak dapat menyisihkan sejengkal yanah pun, karena tanah itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Rakyat saya berjuang untuk mendapatkan tanah itu dan menyuburkannya dengan darah mereka. …Biarkanlah orang Yahudi menyimpan duit mereka yang berjuta-juta banyaknya di peti mereka”.

Gerakan Zionisme Internasional

Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya Portalnews NKRI


Karena kebuntuan itu, pada tanggal 29-31 Agustus 1897 si bazel, Switzerland, dilangsungkan Konferensi Zionisme Internasional ke-1, dihadiri oleh 204 orang tokoh-tokoh Yahudi dari 15 negara. Para peserta konevnsi sepakat bahwa “Zionisme bertujuan untuk membangun sebuah Tanah Air bagi kaum Yahudi di Palestina yang dilindungi oleh undang-undang”, dan untuk tujuan itu, mereka akan mendorong emigasi ke Palestina. Mereka juga membahas prospek dan langkah-langkah politik dan ekonomi untuk pembentukan negara Yahudi di Palestina. Ketika kongres itu berakhir setelah berlangsung selama tiga hari, Theodore Herzl menorehkan di dalm buku hariannya, “Kalau saya harus menyimpulkan apa hasil dari kongres Bazel itu dalam satu kalimat singkat – yang tidak berani saya utarakan kepada pubik – saya akan berkata :’Di Bazel saya menciptakan negara Yahudi!’ “.
Langkah-langkah yang akan ditempuh adalah : 

  • Pembelian tanah untuk para imigran Yahudi,
  • Membuat orang Arab-Palestina tidak betah tinggal di Palestina,
  • Dan yang terakhir mengusir penduduk Arab-Palestina melalui cara-cara terorisme. Untuk mendukung gagasan program migrasi orang Yahudi ke Palestina dan menyediakan tanah bagi mereka, maka dibentuklah beberapa lembaga keuangan, seperti : the Jewish Colonial Trust, the Anglo-palestine Company, the Anglo-Plaestine Bank, dan the Jewish National Fund.

Ketika kongres pada 1897 itu berlangsung namgsa Arab-Palestina mencapai angka 95%, dan mereka menguasai 99% dari tanah Palestina14. Jadi jelas sejak awal Zionisme bertujuan untuk menghapuskan kepemilikan dari tangan mayoritas Arab-Palestina, baik secara politik maupun fisik, merupakan suatu persyaratan yang tak dapat dihindari untuk dapat membentuk sebuah negara Yahudi. Dalam tujuan itu tidak hanya terbatas pada tanah, tetapi tanah tanpa penduduk lain di tengah-tengah mayoritas penduduk Yahudi.

Setelah kegagalannya dengan Sultan Abdul Hamid II, setahun setelah Kongres Zionisme Internasional ke-1di Bazel, pada tahun 1898 Tehodore Herzl mengalihkan perhatiannya kepada Jerman dan Kaizer Wilhelm II yang memiliki ambisi ke Timur Tengah. theodore Herzl secara ketus memberi-tahukan orang Jerman, “Kami membutuhkan sebuh protektorat, dan Jerman kami anggap paing cocok bagi kami”. Ia mengemukakan bahwa para pemimpin Zionisme adalah oang-orang Yahudi berbahasa Jerman. Jadi sebuah negara Yahudi di Palestina akan memperkenalkan budaya Jerman ke wilayah tersebut. Namun Kaizer menolak usul Theodore Herzl, sebab utamanya, ia tidak ingin menyinggung perasaan kesultanan Usmaniyah, yang merupakan langganan utama produk persenjataan Jerman, atau membuat murka kaum Kristen di dalam negeri.

Sementara itu pada tahun 1899 walikota Jerusalem, Youssuf Zia Khalidi, seorang cendekiawan Palestina san anggota parlemen Usmaniyah, menuis sepucuk surat yang diteruskan kepada Theodore Herzl, memperingatkan klaim Zionis terhadap Palestina. Bangsa Arab-Palestina secar khusus menentang tuntutan Zionisme yang didasarkan pada dalih oang Yahudi mempunyai hak atas tanah Palestina hanya karena mereka pernah hidup dua milenia yang silam. Khalidi mencatat bahwa klaim kaum Zionis atas Palestina tidak dapat dilaksanakan mengingat tanah palestina telah berada di bawah kekuasaaan Islamselama 13 abad terakhir dan bahwa orang nusli dan Kristen memiliki kepentingan yang sama mengingat tempat-tempat suci yang ada. Lagipula ia menambahkan penduduk mayoritas Arab-Palestina menentang pnguasaan kaum Yahudi. Ketika Istambul memutuskan pada tahun 1901 untuk memberikan penduduk asing, yang pada intiya bermakna imigran baru Yahudi, hak yang sama untuk membeli tanah, sekelompok tokoh-tokoh terkemuka Arab-Palestina mengirim sebuah petisi ke ibukota Usmaniyah memprotes kebijakan itu.

Di pihak Theodore Herzl tanpa mengenal putus-asa ia memalingkan mukanya ke Inggris. itu dilakukannya pada tahun 1902. Di sini ia menemukan lahan yang subur. Ada tradisi di kalangan Kristen Protestan dan para penulis Inggris sepanjang 2 abad sebelumnya untuk mendukung “kembalinya orang yahudi ke Palestina”, tradisi yang juga bergerak ke Amerika Serikat. lagipula kepentingan Inggris tentang keamanan Terusan Suez sebagai urat-nadi ke jajahan-jajahannya di Timur Jauh telah menggiringnya untuk merebut Mesir pada tahun 1882, dan pengamanan Terusan Suez tetap merupakan fokus kepentingan London di wilayah tersebut. Mempunyai penduduk yang bersahabat di wilayah itu akan memberikan keuntungan yang tak terperikan bagi Inggris.

Sebagaimana Jerman, Inggris pun merasa tidak memiliki kepentingan berhadapan dengan Sultan, membuka duungan Inggris terhadap Palestina bukan hal yang menarik bagi Inggris. Lalu Theodore Herzl meminta membuka hubungan denga teritori Inggris yang terdekat: Siprus, El Arish, atau Semenanjung Sinai. Menteri daerah jajahan Joseph Chamberlain mencoret Siprus, karena kehadiran Yahudi akan menimbulkan murka penduduk Yunani dan Turki, dan Mesir tidak disetujui, karena gubernur Inggris setempat menentang memberikan tanaha sejengkal pun dari wilayah Messir. lalu Chamberlain menyarankan sebuah teritori sebagai kompromi, kira-kira seluas Palestina didaerah Afrika Timur milik Inggris. Meskipun pada waktu itu daerah itu dinamakan Uganda, wilayahnya kini kira-kira ada di Kenya19.

Theodore Herzl bersuka-cita dengan tawaran itu. Menurut Herzl kalau bukan menjadi pengganti bagi Palestina, paling tidak berperan sebagai batu-oncatan. Tetapi saran itu berhadapan dengan badai protes dari kaum Zionis terutama datang dari Rusia dan juga daerah-daerah jajahan Inggris. pada awal 1904 baik Thedore Herzl maupun Joseph Chamberlain dengan senang-hati bersepakat melupakan pikiran itu20.

Pengalaman itu sangat menguntungkan bagi Zionisme. Sebuah koneksi penting telah terjalin dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan Inggris, suatu hubungan yang diramalkan Theodore Herzl dengn tepat, bahwa pada suatu saat akhirnya kelak akan membawa hasil yang nyata. Sebelum meninggalnya pada tanggal 3 Juli 1904 theodore Herzl berkata kepada seorang kawan, “Anda akan lihat waktunya akan tiba Inggris akanmelakukan apa saja yang ada dalam kekuasaaannya untuk menyerahkan Plaestina kepada kita untuk beridirnya suatu negara Yahudi”21. Sesudah ini ambisi kaum Zionis difokuskan semata-mata pada Palestina sebagai tempat bagi negara Yahudi yang diharapkan.

Masyarakat Palestina tidak banyak mengetahui langkah-langkah yang ditempuh Theodore herzl selama itu. Hubungan antara orang Arab_palestina dengan orang Yahudi secara umum cukup bersahabat sampai dengan revolusi turki Muda pada 1908. menurut sejarawan Neville J. Mendell, “Menjelang malam Revolusi turki Muda … sentimen anti-Zionisme mapa masyarakat Arab belum nampak. Sebaliknya memang ada keresahan bekenaan dengan makin meluasnya masyarakat anti-Yahudi di Palestina, dan penentangan yang kian meluas terhadap hal itu”22. Sejarawan Israeli, Gershon Shafir, menambahkan, “Revolusi turki Muda pada bulan Juli 1908 harus dipandang sebagai permulaan konflik Yahudi-Arab secara terbuka, demikian juga lahurnya gerakan nasionalisme Arab”.

Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya Portalnews NKRI


Sebagian besar ketidak-pedulian masyarakat Arab-Palestina sampai tahun 1908 disebabkan oleh kenyataan bahwa para perintis Zionis berhasil menekankan bahwa permintaan mereka hanya ytanah dan hubungan persahabatan, sambil tetap menutupi tujuan yang sesungguhnya – mengusir orang Aeab-Palestina. Sesuai buku-buku Theodore Herzl tetntan perlunya tindakan “kehati-hatian dan kewaspadaaan”, bahkan di saat senja kolonialisme, gagsan yang nerisi niat untuk mengusir penduduk asli setempat untuk memeberikan ruang bagi imigran asing dianaggao berbau terlalu sinis, sehingga para perintis Zionisme berupaya menghindarinya demi pertimbangan politik, serta demi kebutuhan untuk memelihara hubungan baik dehari-hari dengan jiran mereka. Sehingga rencana untuk mengusir orang Arab-Palestunaitu kenudian secra eufemistik di kalangankaum Zionis dan dunia luar dikenal sebagai “masalaj pengalihan:. Kepada publik, kaum Zionis menekankan betapa manfaat yang akan didapat oleh masyarakat Arab-Palestina dan kesultanan Usmaniyah dengan kehadiran imigran Yahudi yang baru yang akan membawa serta bersama mereka odal, ilmu pengetahuan, dan hubungan dengan jaringan internasional.


Pengusiran Orang Arab-Palestina

Mengenal Zionisme, Sejarah dan Asal Usulnya Portalnews NKRI


Pada tahun 1905 Israel Zangwill, seorang organisator zionosme di Inggris dan salah seorang propagandis Zionosme terkemuka yang menciptakan slogan, “sebuah tanah air tanpa rakyat untuk rakyat anpa tanah air”, mengakui di Manchester, bahwa Palestina bukanlah tanah tanpa rakyat. Sebenarnya tanah itu dihuni oleh bangsa Arab, “(Kami) menyiapkan diri, untuk mengusirdengan pedang kablah-kabilah (Arab) itu sebagaimana yang dilakukan nenek-moyang kami, atau menghadapi hadirnya penduduk asing dalam jumlah besar, tarutama kaum Mohammedan yang selama berabad-abad terbiasa menghinakan kami”24. Komentar itu disuarakan pada waktu dimana ada 645.000 juwa orang muslim dan Kristen di Palestina, sementara hanya ada 55.000 jiwa orang Yahudi, sebagian besar non-Zionis atau anti-Zionis, yang terutama tinggal di kawasan Orthodoks Jerusalem dan kota-kota lainnya.

David Ben-Gurion, tokoh yang bersama Theodore Herzl dan Chaim Weizzman, menjadi salah seorang penggagas negara Israel, dengan gamblang menjelaskan hubungan antara Zionisme dengan pengusiran sebagai berikut, “Zionisme adalah pemindahan orang Yahudi.Pemindahan orang Arab jauh lebih mudah daripada cara-cara lainnya.”. Atau, sebagaimana ditandaskan cendekiawan Israeli, Benjamin Beit Hallahmi, “Kalau masalah dasar yang dihadapi oleh Yahudi Diaspora adalah bagaimana bertahan hidupsebagai kaum minoritas, maka masalah dasar Zionisme di Palestina adalahbagaimana melenyapkanpenduduk aslidan menjadikan kaum Yahudi sebgai mayoritas”.

Pada tahun 1914 menjelang Perang Dunia ke-1 ada kira-kira 604.000 jiwa penduduk Arab-Palestina dan hanya ada 85.000 orangYahudi di Palestina, suatu kenaikan kira-kira 30.000 orang Yahudi dalam jangka waktu satu dasawarsa28. Meskipun kenaikan itu relatif rendah, namun bagi sebgaian besar orang Arab-Palestina makin jelas bahwa Zionisme merupakan suatu ancaman permanen yang kian meningkat, betapapun lambannya perkembangannya. Kesadaran yang mulai tumbuh ini meluas di kalngan keluarga Arab-Palestina terkemuka, kaum cendekiawan, dan para pengusahanya. Setelah mendengarkan klaim kaum Zionis dan para perintisnya selama dua dasawarsa, banyak kalangan terkemuka Arab-Palestina menjelang Perang Dunia ke-1 mulai mengakuinya, jika sekiranya berhasil mencapai tujuan-tujuannya, Zionisme artinya tidak lain adalah penghapusan banyak atau seluruh masyarakat Arab-Palestina, baik muslim maupun Kristen.

Desakan penggusuran orang Arab-palestina oleh imigran Yahudi menghidupkan angin nasionalisme Arab yang mulai bertiup merambah ke segenap dunia Arab, kegiatan poitik meningkat di Palestina selama tahun 1908-1914. Sejumlah surat kabar dan organisasi poitik lokal yang memperjuangkan hak-hak rakyat Arab bermunculan di masyarakt Arab-Palestina. Terlepas dar program mereka yang beragam,hampir semua kelompok tersebut memiliki garis yang sama, yakni anti Zionisme. Sebuah selebaran tanpa nama di Jerusalem pada 1914 menulis, “Saudara-saudara! Apakah kalian bersedia menjadi budak an hamba sahaya dari suatu kaum yang terkenal jahatnya di dunia dan dalam sejarah? Maukah kalian menjadi budak dari mereka yang datang menemui kalian hanya untuk mengusir dari negeri kalian, dengan mengklaim bahwa tanah ini milik mereka?”29.

Ketika PD I pecah, seluruh argumen Arab masih terus bergaung hingga hari ini, permusuhan Arab-Yahudi telah menjadi masalah permanen yang di kemudian hari membuatnya menjadi konflik terbuka.

Diantara akivis muda Arab-Palestina edapat seorang anak-belasan tahun, Muhammad Amin Husseini, putera dari suatu keluarga kaya yang selama berabad-abad telah memegan kontrolatas berbagai kedudukan penting di bidang agama dan poitik. Pada usia 13 tahun, pada tahun 1913, Amin Husseini telah memimpin sebuah perkumpulan yang tidak berusia panjang dan mulai menulis selebaran yang menyerang kaum imigran Yahudi. Sebagai seorang asionalis Arab yang masih baru, ia di kemudian hari akan menjadi musuh terbesar kaum Yahudi. Pada tahun 1921, ketika berusia 21 tahun ia terpilih menjadi mufti Jerusalem, suatu jabatan yang telah diduduki oleh leluhurnya,kecuali untuk beberap interupsi, selama berabad-abad sejak abad ke-17, jabatan yang menempatkan Amin Husseini sebagai pemimpin Arab-Palestina30. Sejak saat itu sampai dengan berdirinya negara Israel, Husseini menggunakan segenap kemampuannya untuk mencegah kaum Zionis mendirikan negara mereka.

Amin Husseini dan kaum terkemuka Arab-Palestina lainnya tidaklah polos. Mereka elah bergulat berabad-abad lamanya dengankesultanan Usmaniyah dan fasih dengan intrik-intrik halus istana, mapun bahaya dan keuntungan hubungan komunitas yang kompleks antara musim, Kristen, Yahudi, Druze, dan lain-lain, yang hidup berdampingan dengan masyarakat Arab-Palestina. Meskipun mereka memperhitungkan ancaman Zionisme dan kekuatan mereka sendiri pada PD I, termasuk hak-hak mereka sebagai kelompok mayoritas dan kelemahan klaim kaum Zionis atas Palestina yang hanya didasarkan pada alasan pernah menghuni Plaestina 2000 tahun yang silam, namaun mereka kurang memiliki pemahaman yang rumit tentang dunia Barat. Mereka tidak mampu bersaing dengan pengaruh Yahudi di Inggris dan Amerika Serikat, dan mereka memandang enteng kecenderungan kesejarahan di Barat yang mendukung berdirinya sebuah negara Yahudi.

Bagi kaum Zionis hanya tersisa dua atrategi intuk merebut kekuasaan: men-delegitimasi-kan orang Arab-Palestina dimana kaum Zionis telah sangat berhasil membuktikan selama beberapa tahun terakhir; dan, melempar mereka melalui cara tidak membuka lapangan kerja, atau melalui pengusiran secara paksa. Untuk beberapa lama para perintis Zionisme berpegang pada kepercayaan bahwa orang Arab-Palestina akan dapat dikeluarkan melalui meniadakan lapangan kerja bagi mereka. Strategi itu kentara sekali bagi pengamat luar, seperti Lomisi King-Crane dari Amerika Serikat yang menyerahkan laoran mereka tentang Palestina pada tahun 1919, “Kenyataan mencuat berulang-kali dalam perundingan Komisi dengan perwakilan Yahudi bahwa kaum Zionis berharap mengusir sepenuhnya secara praktis penduduk non-Yahudi yang ada di Paletsinamelalui berbagai cara pembelian tanah”. Laporan itu menambahkan bahwa, “penduduk non-Yahudi berjumlah hampir 90 persen dari keseluruhan”.

Dalam lingkungan terbatas, “masalah pengalihan” penduduk Arab-Palestina tetap merupakan topik diskusi yang berlamjut di kalngan dalam majelis Zionisme selama setngah abad sampai dengan pengusiran secara besar-besaran orang Arab-Palestina pada tahun 194833. Sementara di antara kaum Zionis ada oposisi terhadap gagasan "pengalihan" itu atas dasar kemanusiaan, tetapi logika Zionisme mengharuskan tidak ada pilihan lain daripada men-delegitimasi-kan mayoritas orang Arab-Palestina, atau mengatasijumlah mereka untuk mencapai terbentuknya negara Yahudi. Tetapi mencapai suatu mayoritas Yahudi ternyata tidak realistik. Bahkan pada tahun 1947, setelah bermigrasi hampir enam dasawarsa, hanya ada 589.341 orang Yahudi di antara penduduk Arab-Palestina yang 1.908.775 orang34. Majelis Zionisme memutuskan untuk mengatasi "masalah pengalihan" itu dengan menempuh jalan terorisme seraya menutupnya dengan aksi propaganda yang intensif.

Orang Arab-Palestina menempati kedudukan yang tidak menguntungkan dengan ketidak-mampuan mereka melawan propaganda Zionisme di Barat, yang menggambarkan orang ArabPalestina sebagai kaum yang bodoh, kotor, anti-Kristen, yang tidak perlu didukung. Meski tidak terlalu berhasil pada saat itu mendirikan sebuah negara Yahudi, namun usaha itu sangat efektif mendelegitimasi-kan dan menteror orang Arab-Palestina.

Bersamaan dengan itu kaum Zionis menggunakan usaha apa saja untuk memperkuat stereotipe yang anti-Islam, semacam propaganda yang tak syak lagi pernah mereka lakukan sebelum Perang Salib. Orang Arab- Palestina digambarkan sebagai makhluk yang culas dan kotor dalam berbagai laporan berita (kemudian film dan teve pada masa kini), serta dalam setiap seminar, pamflet, dan wawancara. Hal itu menjadi sebuah proses yang masih terus berlanjut sampai dengan masa kini, bahkan sesudah pengakuan timbal-balik Israel-PLO pada tahun 1993 di Oslo.

Perhatian yang luas dicurahkan untuk memahami bagaimana kaum Zionis awal berhasil merebut tanah Palestina, tetapi hanya reJatif sedikit studi yang difokuskan dan menempatkan kaum mayoritas Arab-Palestina. Tanpa kekuasaan ada dalam tangan kaum Yahudi, kaum Zionis menyimpulkan nasib mereka tidak akan lebih baik daripada di Eropa, mengingat gerakan Zionisme tumbuh khususnya sebagai suatu cara untuk menghindarkan diri dari anti-Semitisme, pogrom, ghetto, dan status minoritas.

Akar dari Zionisme menyentuh jauh ke dalam psyche penderitaan orang Yahudi. Tetapi penyebab utama kemunculannya yang bermula pada penghujung abad ke-19 itu adalah terjadinya gelombang migrasi secara massif sebagai akibat diberlakukannya 'pogrom' di Rusia pada tahun 1881 dan meluasnya sikap anti-Semitisme di seluruh Eropa Timur pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Perorangan, keluarga, dan bahkan seluruh komunitas Yahudi, melarikan diri untuk menghindari teror anti-Semitisme. Sampai dengan pecahnya Perang Dunia ke-l pada tahun 1914, kira-kira 2,5 juta orang Yahudi meninggalkan Rusia dan negara-negara Eropa lainnya, sebagian besar dari mereka melarikan diri ke Barat, khususnya ke Amerika Serikat, Kanada, Amerika Latin, dan Australia. Dan kurang dari 1 % pindah ke Palestina dan menetap disana34. Pada intinya inilah alasan paling mendasar tentang Zionisme - keputus-asaan yang mendalam - ternyata anti-Semitisme tidak dapat dihilangkan selama orang Yahudi hidup di tengah-tengah masyarakat non-Yahudi.

Hal ini bukan perasaan yang umum terdapat pada orang Yahudi, terutama di antara kaum cendekiawan dan pebisnis yang telah berhasil berasimilasi di dalam masyarakat dengan sistem demokrasi Barat, atau telah mendapatkan rasa aman yang dijamin oleh hak kebebasan beragama. Sejatinya Zionisme tetap merupakan gerakan kelompok minoritas di antara kaum Yahudi sampai memasuki abad ke-20.

Ada juga kelompok anti-Zionisme yang cukup kuat dan vokal, seperti the American Council for Judaism di Amerika Serikat pada dasawarsa 1950-an, yang menganggap "ke Jerusalem tanpa tuntunan Al-Masih adalah penyimpangan dari Taurat". Salah satu buah dari kemenangan Israel dalam Perang 1967 atas bangsa-bangsa Arab ialah penerimaan final atas Zionisme sebagai makna politik oleh hampir segenap masyarakat Yahudi sejak itu.

Bahkan pada masa bayinya Zionisme telah menikmati dukungan kuat baik dari London maupun Washington. Terlebih-Iebih adanya masalah sosial yang ditimbulkan oleh migrasi orang Yahudi secara massif, meyakinkan para pemimpin Barat untuk mendukung gagasan adanya negara Yahudi. Hal itu dikarenakan banjirya emigran Yahudi yang meminta suaka ke negara-negara tersebut begitu besar jumlahnya dari tahun ke tahun, sampai-sampai suatu ketika hal itu memicu berbagai kerusuhan anti-imigrasi di London, dan menuntut undang-undang imigrasi yang restriktifbaik di Inggris maupun di Amerika Serikat.

Pembentukan negara Yahudi merupakan jalan keluar untuk meniadakan imigran Yahudi, dan dengan itu sekaligus menenangkan badai politik berkenaan dengan undang-undang imigrasi. Bahwa tidak banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh para politisi terhadap dampak yang dapat timbul terhadap penduduk Arab-Palestina tidaklah mengherankan dalam lingkungan pada masa itu.

Di Palestina sendiri, kesultanan Usmaniyah yang telah memerintah Palestina selama 400 tahun, bukannya tidak menyadari akan bahaya terhadap tata yang telah ada dihadapkan dengan kemungkinan imigrasi Yahudi yang tak-terbatas. Meskipun hanya ada 60.000 orang dari 2,5 juta yang melarikan diri dari Eropa Timur yang menjadi penduduk menetap di Palestina sampai dengan Perang Dunia ke-l, bahkan jumlah sekecil itu pun merasa sebagai orang-orang yang tidak disenangi37.


Deklarasi Balfour

Pada tahun 1914-1918 pecah Perang Dunia Ke-l. Dalam perang tersebut daulah Usmaniyah memihak Jerman. Memanfaatkan situasi yang ada Chaim Weizmann pada tahun 1917 menulis surat kepada Parlemen Inggris untuk meminta dukungan dan persetujuan Inggris untuk membentuk sebuah negara Yahudi di Palestina. Pada tanggal 2 Nopember 1917 menteri luar-negeri Inggris Lord Balfour mengirimkan nota kepada Parlemen Inggris dengan isi, antara lain, "Menurut pendapat pemerintah Inggris, mempertahankan Terusan Suez akan mencapai hasil maksimal dengan mendirikan suatu negara Palestina yang terikat dengan kita. Dan mengembalikan orang Yahudi ke Palestina di bawah pengawasan Inggris akan menjamin rencana ini" Parlemen Inggris memberikan persetujuannya, dan dengan dasar dukungan itu Lord Balfour kemudian mengirim surat pada hari yang tidak jauh berselang kepada Baron Rothschilds yang intinya berbunyi, "Pemerintahan Sri Baginda dengan segala senang hati merestui pembentukan Tanah Air bagi kaum Yahudi di Palestina, dan akan menggunakan segala upaya untuk memfasilitasi tercapainya tujuan ini".

Dukungan Inggris kepada terbentuknya negara Yahudi itu terkait erat dengan kepentingan imperialisme global Inggris sebagaimana ditegaskan oleh Winston Churchill pada tahun 1921, menteri luar-negeri Inggris pada waktu itu, bahwa "Kalau Palestina tidak pernah ada, maka menurut keyakinan saya, demi kepentingan Imperium, ia harus diciptakan".


Izin publikasi buku ini diperoleh dari penerbit Daseta selaku pemegang hak cipta
[email: kbi@dnet.net.id]
"...untuk disebarluaskan ke masyarakat umum asalkan 
tidak sebagai buku yang dijual di toko-toko buku" 





Sejarah Asal Mula Terciptanya Air ZamZam

Sejarah Asal Mula Terciptanya Air ZamZam



Sejarah atau asal usul Munculnya Sumur Air Zam Zam yang airnya tidak pernah habis Di Mekkah ini terjadi pada masa Nabi Ibrahim As.

Menurut bahasa Arab, zam-zam sendiri berarti melimpah atau banyak. Sementara, menurut syariah sendiri air zam-zam merupakan air berasal dari sebuah sumur yang dinamakan Zam-Zam. Adapun letak air zam-zam berada tak jauh dari Ka’bah, yakni kira-kira hanya 38 hasta saja. Penamaan Zam-Zam sendiri dikarenakan air ini sama seperti arti Zam-Zam, di mana air tersebut berasal dari sebuah sumur yang banyak sekali mengeluarkan air. Sumur tersebut memiliki air yang begitu melimpah, bahkan tak akan habis meskipun telah dibawa dan diambil tiap harinya oleh orang-orang Muslim hingga di seluruh dunia. (Baca : Manfaat Air Zam Zam, Keistimewaan dan Keutamaannya)

Selain itu, penamaan Zam Zam dapat diambil juga dari perilaku Siti Hajar. Di mana saat air Zam-Zam ini mulai terpancar, maka Siti Hajar pun segera membendung dan mengumpulkannya. Bisa juga diambil berdasarkan galian Malaikat Jibril berikut perkataannya, saat ia mengatakan sesuatu kepada Siti Hajar. Beberapa orang berpendapat, di mana nama air Zam-Zam termasuk a’lam, yakni nama asal berdiri sendiri, dan tidak diadopsi dari kata lain atau kalimat yang lainnya. Ada juga yang berpendapat, di mana Zam-Zam diadopsi dari zamzamatul ma’ yakni suara yang berasal dari air tersebut itu sendiri.

Ada nama lain dari Zam-Zam, yakni ‘madhmunah’ yang berarti berharga, ‘barrah’ artinya kebaikan, ‘hazmah Jibril’ artinya galian Jibril, ‘syarabul abrar’ artinya minuman untuk orang-orang yang baik, ‘tha’amu tu’im’ artinya makanan, ‘syifa suqim’ artinya obat penyakit, ‘thayyibah’ artinya yang baik, dan ‘taktumu ‘ artinya yang tersembunyi.

Sejarah Munculnya Sumur Air Zam Zam Di Mekkah Secara Singkat

Berdasarkan riwayat Imam Al Bukhari dalam Hadits Shahihnya, Sejarah Air Zam Zam yang diambil dari sebuah hadits yakni Ibu ‘Abbas. Di Mekkah, suatu ketika Nabi Ibrahim AS telah menempatkan istrinya yakni Hajar beserta putranya yang bernama Ismail di dekat Ka’bah. Di sebuah pohon yang besar terletak di bagian atas sebuah sumur yang di namakan Zam-Zam tadi. Di saat tersebutlah, tak seorang pun berada di Mekkah, yang ada hanya mereka bertiga saja. Sesudah Nabi Ibrahim AS menempatkan sebuah kantong yang berisi air dan kurma, maka beliau pun akhirnya beranjak untuk pergi. Akan tetapi, Hajar pun mengikutinya sembari berkata kemanakah Ibrahim hendak pergi meninggalkan mereka (Hajar dan anaknya) sendirian berada di tempat yang sama sekali tidak ada seorang pun di sana.

Hajar pun terus mengulangi pertanyaannya, akan tetapi suami yang tak lain adalah Nabi Ibrahim AS tak menengok sedikit pun pada dirinya. Hingga akhirnya, Hajar pun berkata pada Nabi Ibrahim di mana apakah ia melakukannya karena Allah SWT menyuruhnya. Pada saat itulah, nabi Ibrahim pun mengiyakannya. Setelah itu, Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan istri beserta anaknya.

Kemudian Hajar sekaligus ibunda Ismail pun menyusui anaknya kemudian meminum air yang berasal dari kantong yang ditinggalkan nabi Ibrahim AS untuknya. Hingga akhirnya, bekal air yang dibawa pun habis sehingga Ismail merasa kehausan. Melihat Ismail yang kehausan, Hajar pun merasa cemas terlebih lagi saat itu Ismail tak berhenti menangis. Selanjutnya, Hajar pergi mencari sebuah sumber air, dikarenakan ia merasa tak tega menyaksikan anaknya yang kehausan. Lalu Hajar pun pergi menuju sebuah bukit yang paling dekat di sana, yakni bukit Shafa terletak di atasnya. Kemudian pandangan Hajar pun diarahkan menuju lembah yang ada di sekelilingnya, lalu menyaksikan apakah terdapat orang di sana. Akan tetapi, tak seperti harapannya di mana tak ada seorang pun di sekelilingnya.

Hingga akhirnya Hajar turun melalui sebuah lembah dan menuju bukit Marwa. Hajar melewati lembah tersebut sebanyak 7 kali, hingga akhirnya ia sampai di atas bukit tersebut. Kemudian ia pun mendengar suara dan tiba-tiba saja melihat Jibril sedang mengais tanah memakai kakinya (atau memakai sayapnya), lalu Jibril pun memukulkan kakinya tepat di atasnya. Di saat tersebutlah keluar sebuah pancar air yang berasal di dalam tanah. Setelah itu, Hajar pun langsung bergegas menampung dan mengambilnya.

Hajar pun menciduk air tersebut memakai tangannya lalu memasukkannya pada tempat air. Bahkan sesudah diciduk, justru air itu malah semakin memancar dan melimpah. Hajar pun akhirnya meminumkan air yang diambilnya tersebut untuk Ismail, putranya. Di saat yang sama, Malaikat Jibril berkata pada Hajar bahwa jangan pernah takut untuk terlantar. Sebab dari situlah Baitullah dibangun oleh Ismail dengan ayahnya Ibrahim. Selain itu, Allah tak akan pernah menelantarkan Hamba-Nya.